Minggu, 01 November 2015

Peranan pemuda dalam aqidah islam



Pemuda, Jejak Tonggak Estafet Aqidah Bangsa
            Pemuda merupakan penerus estafet kepemimpinan bangsa ini. Bangsa yang masih dalam akreditasi perkembangan. Dari berbagai problematika di era sekarang yang banyak mempengaruhi pertumbuhan bangsa yang diambang kekhawatiran. Dari sinilah dibutuhkan generasi  militan yang mampu menjunjung bangsa dalam taraf kemajuan.
            Pemuda tidak hanya dipandang dari segi batas umur saja namun, dari semangatnya. Tidak hanya seorang yang berumur 15-30 tahun, akan tetapi usia 50 tahun keatas bisa diartikan sebagai pemuda jika ia mempunyai semangat yang berjiwa pemuda.
Aqidah Islam dalam Arus Globalisasi
            Globalisasi adalah proses dunia menjadi satu tanpa skat maupun batas. Misal, jika terdapat berita di negara Amerika tanpa kita harus berjalan jauh ke sana kita akan dengan cepat mendapatkan informasi yang ada.
Dalam arus globalisai modern kini lahir berbagai macam keyakinan. Tidak hanya perbandingan antara islam dan non islam. Namun, perbedaan keyakinan dalam lingkup islam itu sendiri. Negatifnya perbedaan aqidah tersebut menimbukan berbagai macam kerusuhan yang sampai sekarang belum terselesaikan.
Manusia merupakan makhluk sosial, yaitu tidak dapat hidup sendiri. Begitupun negara Indonesia era sekarang. Tanpa bekerjasama dengan negara lain Indonesia tidak akan mampu berdiri sendiri.
Dalam hakikatnya sesuatu yang tidak sejalan dengan pemahaman kita pasti dianggap sebagai musuh. Begitu pula dalam Islam. Islam memang merupakan agama yang baik dan benar. Namun, dalam Islam terutama Aqidah Ahlussunah Waljamaah kita diajarkan untuk bersikap tasamuh ( toleransi ) agar dapat menghormati agama lain.
Negatifnya, rasa saling menghormati yang kini tidak lagi diperhatikan menjadi peletak dasar utama munculnya berbagai pertentangan. Seperti halnya ISIS, faham radikal yang menggegerkan dunia. Palestina merupakan negara prioritas yang menjadi sasaran faham wahabi yang rasional ini. Kekayaan kilang minyak yang dimiliki Palestina membuat ISIS tidak henti hentinya membuat kerusuhan. Bahkan, kerusuhan yang diciptakan hingga sampai  ke Indonesia. Dari sinilah dibutuhkan pemuda yang berkarakter. Dalam arti mampu berperan dalam perlindungan aqidah Islam dibumi ini, terutama bangsa tanah air. 
Sekarang menuju masa depan
            Sejatinya penduduk di bumi mempunyai tabiat yang baik maupun buruk. Dalih al-qur’an menjelaskan “Apabila engkau taat, kebanyakan orang di bumi akan menyesatkan”. Ayat tersebut menggambarkan bahwa keburukan itu mencapai jumlah lebih tinggi dibandingkan dengan kebaikan yang ada di bumi ini.
Ke depan, tidak akan membicarakan tentang kebaikan dan kebenaranya. Namun, sebuah kemenangan yang berhasil diraihnya. Karena kebaikan akan dikuasai kebatilan oleh mereka yang mempunyai peluang untuk menang.           
Sesungguhnya manusia sejatinya megejar harta dunia. Dimana sejumlah harta itu bertempat, maka manusia akan berbondong-bondong dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan dunia. Jika dianalisa, jumlah manusia di bumi mencapai 7 milyard, dari 7 milyard tersebut 6 diantaranya adalah  manusia yang mempunyai kehendak yang sama, yaitu mengejar harta dunia sebanyak mungkin. Sedangkan 1 milyard yang terdiri dari orang gila, anak-anak dan orang zuhud, yang tidak berpijak pada  harta dunia.
Makna Pemuda dalam Konteks Islam                                                           
            Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur’an menceritakan potret pemuda yang mempunyai pendirian yang benar dalam menegakkan Tauhid.
Dalam Q.S Al Kahfi : 18  Dikisahkan ashaabul kahfi yaitu Kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang  menyimpang dari agama Allah SWT, Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dan menidurkan mereka selama 309 tahun hingga berakhirnya rezim kafir menjadi rezim beriman.
Begitu pentingnya peranan pemuda dalam pembangunan aqidah Islam. Selain itu ungkapan dari sang pejuang bangsa yakni “Berikan 10 orang pemuda dan aku akan mampu memindahkan sebuah gunung dan berikan aku 100 orang pemuda maka aku akan dapat menggerakkan dunia” pernyataan populer tersebut ditegaskan Bapak Proklamator Republik Indonesia.
Degradasi Moral Bangsa, Benarkah ?
Banyak pernyataan yang mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang sudah mulai menurun dalam moralnya. Pemuda yang seharusnya senantiasa ikhlas berjuang, belajar mencari jalan keluar masalah ekonomi negara kini mengilang. Tujuan untuk kembali pada hakikat kemedekaan yang hakiki pun hanya sebatas harapan.
 Arus Globalisasi yang mendunia menyebabkan kurangnya perhatian para pemuda terhadap perkembangan bangsa ini. Runtuhnya aqidah Islam dalam dunia globalisasi tidak lagi bisa dipungkiri. Sikap acuh tak acuh pun kebanyakan lahir dalam diri pemuda sekarang. Kini pemuda seakan terlena akan pesatnya perkembangan teknologi, hingga lupa akan kewajiban mereka untuk belajar dan menjadi agen pejuang bangsa dimasa depan. Tidak jarang dimasa sekarang pemuda yang memiliki hobi tawuran, konsumsi narkoba, premanisme hingga praktik suap menyuap layaknya pejabat negara. Perilaku semacam ini terjadi karena adanya kekosongan waktu yang tidak digunakan dengan hal yang positif.
Menuai Generasi Pengemban Aqidah
            Kehilangan karakter saat ini menjadi masalah dihadapi bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur yang dijajaran para pendiri bangsa ini seakan telah luntur tegerus zaman. Sebagai pelajar haruslah mampu bangkit bersatu bersama menyisingkan lengan baju untuk terus memajukan bangsa ini. Faham aqidah yang saling bertentangan perlu peranan pemuda yang berpotensi.
Segala problematika pemuda yang ini marak terjadi tidak akan berakhir jika tidak ada kesadaran sesama pemuda untuk saling mengingatkan, mengubahnya menuju kemandirian pemuda yang lebih baik dan berguna bagi bangsa. Karena problematika tersebut terjadi karena minimnya pendidikan agama, pendidikan karakter bahkan pendidikan moral. Dan dari sinilah pemuda harus mulai menanamkan nilai-nilai luhur agama terlebih pada aqidah Islam sekarang. Selain itu dibutuhkan wawasan keagamaan yang nasionalisme, kebudayaan, sosial masyarakat dan perilaku yang diintegrasikan ke dalam pendidikan, agar nantinya generasi muda siap berperan dalam mempertahankan aqidah islam di era globalisasi.
Berpijak atas ungkapan sang guru bangsa, Gus Dur yang berpesan kepada generasi muda Indonesia untuk tetap menjadi diri sendiri ( be your self ) dan mampu melakukan yang terbaik ( do the best ).
Wejangan sederhana
            Berbicara tentang pemuda  ingatan kita akan menuju kepada dua hal yakni sekarang dan ke depan. Sekarang artinya, bagaimanakah pendidikan pemuda sekarang ini ? Sedangkan ke depan adalah bagaimana kualitas pemuda yang akan menggantikan generasi tua ?.
            Sebagai pemuda generasi masa depan, kita harus ingat “Sekarang bagaimana pemuda itu ? Karena kedepan seperti apakah Islam ? Jawabanya seperti apakah pemuda sekarang”.
Satu pesan untuk para pemuda yaitu BELAJAR. Belajar yang sesungguhnya tidak cukup hanya dengan keilmuan namun juga harus didukung dengan pembentukan kepribadian. Filosofinya seperti orang yang membawa baterai untuk penerang saat  berjalan dalam kegelapan. Begitupun tentang ungkapan AL-ILMU NURUN ( Ilmu adalah Cahaya )  cahaya untuk penerang dalam kegelapan, sebagai petunjuk dalam menelusuri jalan. Selain itu, dengan ilmu kita akan menemukan titik keselamatan dan kebahagiaan.