Pemuda,
Jejak Tonggak Estafet Aqidah Bangsa
Pemuda merupakan penerus estafet
kepemimpinan bangsa ini. Bangsa yang masih dalam akreditasi perkembangan. Dari
berbagai problematika di era sekarang yang banyak mempengaruhi pertumbuhan
bangsa yang diambang kekhawatiran. Dari sinilah dibutuhkan generasi militan yang mampu menjunjung bangsa dalam
taraf kemajuan.
Pemuda tidak hanya dipandang dari
segi batas umur saja namun, dari semangatnya. Tidak hanya seorang yang berumur
15-30 tahun, akan tetapi usia 50 tahun keatas bisa diartikan sebagai pemuda
jika ia mempunyai semangat yang berjiwa pemuda.
Aqidah Islam dalam Arus Globalisasi
Globalisasi
adalah proses dunia menjadi satu tanpa skat maupun batas. Misal, jika terdapat
berita di negara Amerika tanpa kita harus berjalan jauh ke sana kita akan
dengan cepat mendapatkan informasi yang ada.
Dalam
arus globalisai modern kini lahir berbagai macam keyakinan. Tidak hanya
perbandingan antara islam dan non islam. Namun, perbedaan keyakinan dalam
lingkup islam itu sendiri. Negatifnya perbedaan aqidah tersebut menimbukan
berbagai macam kerusuhan yang sampai sekarang belum terselesaikan.
Manusia
merupakan makhluk sosial, yaitu tidak dapat hidup sendiri. Begitupun negara
Indonesia era sekarang. Tanpa bekerjasama dengan negara lain Indonesia tidak
akan mampu berdiri sendiri.
Dalam
hakikatnya sesuatu yang tidak sejalan dengan pemahaman kita pasti dianggap sebagai
musuh. Begitu pula dalam Islam. Islam memang merupakan agama yang baik dan
benar. Namun, dalam Islam terutama Aqidah Ahlussunah Waljamaah kita diajarkan
untuk bersikap tasamuh ( toleransi ) agar dapat menghormati agama lain.
Negatifnya,
rasa saling menghormati yang kini tidak lagi diperhatikan menjadi peletak dasar
utama munculnya berbagai pertentangan. Seperti halnya ISIS, faham radikal yang
menggegerkan dunia. Palestina merupakan negara prioritas yang menjadi sasaran
faham wahabi yang rasional ini. Kekayaan kilang minyak yang dimiliki Palestina
membuat ISIS tidak henti hentinya membuat kerusuhan. Bahkan, kerusuhan yang
diciptakan hingga sampai ke Indonesia.
Dari sinilah dibutuhkan pemuda yang berkarakter. Dalam arti mampu berperan
dalam perlindungan aqidah Islam dibumi ini, terutama bangsa tanah air.
Sekarang menuju masa depan
Sejatinya
penduduk di bumi mempunyai tabiat yang baik maupun buruk. Dalih al-qur’an
menjelaskan “Apabila engkau taat,
kebanyakan orang di bumi akan menyesatkan”. Ayat tersebut menggambarkan
bahwa keburukan itu mencapai jumlah lebih tinggi dibandingkan dengan kebaikan
yang ada di bumi ini.
Ke
depan, tidak akan membicarakan tentang kebaikan dan kebenaranya. Namun, sebuah
kemenangan yang berhasil diraihnya. Karena kebaikan akan dikuasai kebatilan
oleh mereka yang mempunyai peluang untuk menang.
Sesungguhnya
manusia sejatinya megejar harta dunia. Dimana sejumlah harta itu bertempat,
maka manusia akan berbondong-bondong dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan
dunia. Jika dianalisa, jumlah manusia di bumi mencapai 7 milyard, dari 7
milyard tersebut 6 diantaranya adalah
manusia yang mempunyai kehendak yang sama, yaitu mengejar harta dunia
sebanyak mungkin. Sedangkan 1 milyard yang terdiri dari orang gila, anak-anak
dan orang zuhud, yang tidak berpijak pada
harta dunia.
Makna Pemuda dalam Konteks Islam
Islam adalah
agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur’an
menceritakan potret pemuda yang mempunyai pendirian yang benar dalam menegakkan
Tauhid.
Dalam Q.S Al Kahfi : 18 Dikisahkan ashaabul kahfi yaitu Kelompok
pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, Allah SWT
menyelamatkan para pemuda tersebut dan menidurkan mereka selama 309 tahun
hingga berakhirnya rezim kafir menjadi rezim beriman.
Begitu
pentingnya peranan pemuda dalam pembangunan aqidah Islam. Selain itu ungkapan
dari sang pejuang bangsa yakni “Berikan
10 orang pemuda dan aku akan mampu memindahkan sebuah gunung dan berikan aku
100 orang pemuda maka aku akan dapat menggerakkan dunia” pernyataan populer
tersebut ditegaskan Bapak Proklamator Republik Indonesia.
Degradasi Moral Bangsa, Benarkah ?
Banyak
pernyataan yang mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang sudah mulai menurun
dalam moralnya. Pemuda yang seharusnya senantiasa ikhlas berjuang, belajar
mencari jalan keluar masalah ekonomi negara kini mengilang. Tujuan untuk
kembali pada hakikat kemedekaan yang hakiki pun hanya sebatas harapan.
Arus Globalisasi yang mendunia menyebabkan
kurangnya perhatian para pemuda terhadap perkembangan bangsa ini. Runtuhnya
aqidah Islam dalam dunia globalisasi tidak lagi bisa dipungkiri. Sikap acuh tak
acuh pun kebanyakan lahir dalam diri pemuda sekarang. Kini pemuda seakan
terlena akan pesatnya perkembangan teknologi, hingga lupa akan kewajiban mereka
untuk belajar dan menjadi agen pejuang bangsa dimasa depan. Tidak jarang dimasa
sekarang pemuda yang memiliki hobi tawuran, konsumsi narkoba, premanisme hingga
praktik suap menyuap layaknya pejabat negara. Perilaku semacam ini terjadi
karena adanya kekosongan waktu yang tidak digunakan dengan hal yang positif.
Menuai Generasi Pengemban Aqidah
Kehilangan
karakter saat ini menjadi masalah dihadapi bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur
yang dijajaran para pendiri bangsa ini seakan telah luntur tegerus zaman.
Sebagai pelajar haruslah mampu bangkit bersatu bersama menyisingkan lengan baju
untuk terus memajukan bangsa ini. Faham aqidah yang saling bertentangan perlu
peranan pemuda yang berpotensi.
Segala
problematika pemuda yang ini marak terjadi tidak akan berakhir jika tidak ada
kesadaran sesama pemuda untuk saling mengingatkan, mengubahnya menuju
kemandirian pemuda yang lebih baik dan berguna bagi bangsa. Karena problematika
tersebut terjadi karena minimnya pendidikan agama, pendidikan karakter bahkan
pendidikan moral. Dan dari sinilah pemuda harus mulai menanamkan nilai-nilai
luhur agama terlebih pada aqidah Islam sekarang. Selain itu dibutuhkan wawasan
keagamaan yang nasionalisme, kebudayaan, sosial masyarakat dan perilaku yang
diintegrasikan ke dalam pendidikan, agar nantinya generasi muda siap berperan
dalam mempertahankan aqidah islam di era globalisasi.
Berpijak
atas ungkapan sang guru bangsa, Gus Dur yang berpesan kepada generasi muda
Indonesia untuk tetap menjadi diri sendiri ( be your self ) dan mampu melakukan yang terbaik ( do the best ).
Wejangan sederhana
Berbicara
tentang pemuda ingatan kita akan menuju
kepada dua hal yakni sekarang dan ke depan. Sekarang artinya, bagaimanakah
pendidikan pemuda sekarang ini ? Sedangkan ke depan adalah bagaimana kualitas
pemuda yang akan menggantikan generasi tua ?.
Sebagai pemuda generasi masa depan,
kita harus ingat “Sekarang bagaimana pemuda itu ? Karena kedepan seperti apakah
Islam ? Jawabanya seperti apakah pemuda sekarang”.
Satu
pesan untuk para pemuda yaitu BELAJAR. Belajar yang sesungguhnya tidak cukup
hanya dengan keilmuan namun juga harus didukung dengan pembentukan kepribadian.
Filosofinya seperti orang yang membawa baterai untuk penerang saat berjalan dalam kegelapan. Begitupun tentang
ungkapan AL-ILMU NURUN ( Ilmu adalah Cahaya ) cahaya untuk penerang dalam kegelapan, sebagai
petunjuk dalam menelusuri jalan. Selain itu, dengan ilmu kita akan menemukan
titik keselamatan dan kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar